Pasca pandemi pada tahun 2023, penjualan di situs web toko online sendiri yang dikenal sebagai e-commerce mungkin tidak secerah seperti sebelum pandemi, terutama di Indonesia.
Meningkatnya pengaruh marketplace dari Tokopedia, Shopee, dan Lazada hingga yang terbaru, Tiktok Shop, membuat konsumen lebih mudah berbelanja online. Konsumen dari berbagai kalangan usia kini dapat dengan mudah memilih produk terbaik sesuai dengan preferensi mereka, baik dari brand lokal maupun internasional.
Sebagai wawasan perbedaan e-commerce dan marketplace, menurut artikel dewaweb.com
E-commerce (electronic commerce) adalah metode dagang yang dilakukan secara online, mulai dari penjualan, pembelian, hingga promosi. Seperti namanya, e-commerce dapat diakses di mana saja, dari laptop hingga smartphone, selagi perangkat tersebut terhubung dengan internet.
Namun perlu diingat, e-commerce hanya menjual produk dari website itu sendiri. Jadi, kamu tidak akan menemukan lebih dari satu toko online seperti di marketplace.Platform untuk membuat e-commerce adalah Woocommerce, Shopify, Squarespace, Wix, BigCommerce.
Marketplace adalah sebuah website yang menghubungkan seorang penjual dengan pembeli melalui internet. Berbeda dengan e-commerce, marketplace hanya menyediakan platform untuk transaksi online dan fasilitas pembayaran. Contoh marketplace paling populer saat ini di Indonesia adalah Shopee dan Tokopedia.

Bukan rahasia bahwa marketplace memiliki daya tarik yang kuat bagi konsumen. Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar seperti sambal, tetapi juga memenuhi keinginan akan penampilan segar mulai dari pakaian hingga aksesori dalam satu klik. Dengan tambahan promo gratis ongkir, cashback, diskon spesial saat live, dan promosi lainnya, konsumen semakin terbiasa untuk berbelanja di marketplace tersebut.
Namun sebagai penjual atau brand, terkadang kehadiran marketplace menjadi dua sisi mata uang. Kehadirannya terbukti meningkatkan penjualan, namun dalam jangka panjang menggerus pendapatan karena kenaikan komisi setiap tahun, ketergantungan pada iklan serta persaingan harga yang tidak masuk akal.
Alasan tersebut mungkin tidak sama bagi semua brand, namun bagi penulis merasa demikian. Didukung perubahan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan sosial media seperti instagram yang mulai tidak menjanjikan untuk menjangkau banyak target pasar dan push penjualan ke website membuat brand cukup kewalahan dalam mempertahankan engagement dan loyalitas.
Dengan pendekatan yang sedikit konvensional namun tetap memperhatikan profesionalitas merek, serta dengan tujuan untuk meningkatkan loyalitas konsumen, saya memutuskan untuk membuat ulang website e-commerce di Shopify pada awal Agustus 2023.
Dalam tengah persaingan brand, meningkatkan loyalitas dan retensi penjualan merupakan kunci utama untuk memastikan kelangsungan bisnis yang menguntungkan. Fenomena perang harga telah membuat sebagian brand kesulitan untuk bersaing, karena mereka lebih memilih fokus pada kualitas daripada kuantitas, serta menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi.
Shopify adalah platform pembangun situs web terbaik yang khusus untuk toko online. Setelah mencoba WordPress, Squarespace, dan Plugo selama bertahun-tahun, Shopify tetap menjadi yang terbaik dalam banyak hal.
Desain yang lebih indah, pembuatan yang lebih mudah, dan integrasi dengan aplikasi yang lebih baik, termasuk aplikasi untuk membuat aplikasi seluler, menjadikannya solusi yang tepat untuk membangun website e-commerce. Namun, satu kekurangan yang paling nyata dari Shopify adalah pengguna dapat mengeluarkan biaya lebih mahal dibandingkan platform lain jika menggunakan banyak aplikasi berbayar.
Berikut adalah daftar biaya bulanan menggunakan Shopify. Biaya termurah adalah 25 dollar atau sekitar Rp380.000 tanpa biaya pajak. Jika ingin lebih murah, bisa membayar tahunan sebesar 19 dollar.

Sangat disarankan untuk memilih paket Basic bagi mereka yang baru memulai atau tidak memiliki banyak penjualan langsung melalui website brand. Selain biaya bulanan Shopify, juga ada biaya aplikasi yang diperlukan untuk meningkatkan penjualan. Meskipun banyak yang gratis, beberapa aplikasi penting memerlukan langganan, seperti payment gateway yang memudahkan pembayaran bagi konsumen, biasanya menggunakan Xendit.
Selain Xendit, kita juga dapat mengandalkan layanan Biteship atau J&T untuk menampilkan harga pengiriman dan sistem resi pengiriman otomatis terintegrasi langsung dengan website kita. Dengan opsi tersebut, kita dapat memastikan efisiensi dalam proses pengiriman tanpa perlu melakukan perhitungan harga secara manual.
Jangan lupa bahwa Shopify mengenakan komisi transaksi berhasil berdasarkan paket yang dipilih. Untuk paket basic, dikenakan biaya sebesar 2% dari setiap transaksi berhasil. Hal ini menjadi pertimbangan utama bagi sebagian besar pengguna Shopify karena dapat mengurangi profit, meskipun jumlahnya jauh lebih kecil daripada berjualan di marketplace Shopee dan Tokopedia.
Setelah menyadari kecenderungan konsumen yang senang berbelanja melalui aplikasi, baik di smartphone Android maupun iPhone, saya memutuskan untuk mencoba membuat aplikasi seluler yang dapat diunggah ke Google Play Console dan Apple Developer. Hal ini akan memungkinkan konsumen setia untuk mengunduh dan menggunakan aplikasi tersebut saat mereka berbelanja produk.
Berdasarkan artikel dari MarketingCraft, terdapat data statistik yang dirilis oleh Global Web Index melaporkan jika penduduk Indonesia rata-rata menghabiskan sekitar 8 jam 36 menit per hari untuk mengakses internet dari berbagai perangkat dan 91% dari responden memilih perangkat ponsel pintar sebagai pilihan utama.
Ini berarti peluang untuk menjamin visibility brand menjadi jauh lebih besar. Apalagi jika turut mempertimbangkan kondisi pikiran seorang individu yang cenderung secara tidak sadar merekam setiap teks, gambar, atau ikon aplikasi yang menarik. Dengan membuat aplikasi yang baik serta menyertakan ikon yang tepat, brand telah menjamin kualitas visibility brand yang tinggi.
Apps yang dapat digunakan di Shopify untuk membuat mobile app termasuk banyak pilihan, di antaranya yang paling populer adalah Vajro dan Shopney. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan dengan harga terendah yang sama, yaitu 99 dollar atau sekitar Rp1.550.000 per bulan.
Mengapa Harus Memiliki Aplikasi Seluler? Pertanyaan ini sering muncul. Setelah membaca artikel dan merenung sejenak, saya yakin bahwa memiliki aplikasi seluler dapat membantu memperkuat merek dan meningkatkan loyalitas konsumen, serta meningkatkan jumlah pembelian ulang (retensi) dari konsumen setia. Di bawah ini adalah tampilan dari aplikasi seluler gomuda yang memungkinkan saya untuk dengan mudah mengubah tampilannya tanpa perlu memiliki pemahaman mendalam dalam pemrograman.
Aplikasi brand gomuda sedang dalam masa percobaan selama sebulan pemakaian. Tidak perlu membayar sampai 13 September 2023. Pembayaran pertama sebesar 99 dolar menggunakan aplikasi Vajro yang dikembangkan di India.
Normalnya total biaya bulanan untuk gomuda selama sebulan menggunakan shopify rinciannya sebagai berikut:
| Paket Bulanan Basic Shopify | $25 |
| App Tiny Image | $2 |
| App Vajro | $99 |
| Komisi Shopify untuk transaksi berhasil 2% | $( ) tergantung penjualan |
| Komisi Xendit untuk transaksi berhasil menggunakan VA Bank Transfer Rp4000-Rp5000 dan 1,5% – 3,18% untuk e-wallet. | Rp ( ) tergantung penjualan dan metode pembayaran |
| Pajak 11% | Rp ( ) |
Aplikasi Gomuda dibuat saat biaya Shopify per bulan sedang promo senilai $1. Cocok untuk masa percobaan tanpa perlu bayar mahal.
Hasil kelebihan dan kekurangan dari membuat mobile app dan website e-commerce dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk strategi pemasaran dan branding. Harapannya adalah mendapatkan banyak pelajaran dari strategi ini dan meningkatkan visibilitas, loyalitas, retensi, dan penjualan. Saya akan menganalisis hasilnya hingga Desember 2023.

Tinggalkan komentar