Belum ada metode pasti untuk menghancurkan sampah plastik dengan sempurna. Masalah plastik ini sudah lama ada dan menjadi masalah kita semua. Seperti yang dilaporkan di situs vivanews.com 2012 silam.

“Sampah plastik sekarang sudah 20-30 persen, belum ditambah lagi sampah seperti kayu log yang datang dari Kalimantan dan Sulawesi Tengah. Jelas ini sangat mengancam kelestarian terumbu karang,” kata Direktur Pengelola Taman Nasional Bunaken, Jeffry Pasinaung, saat berbincang dengan VIVAnews.com, Sabtu 14 Januari 2012.”

Berdasarkan data statistik, hanya dalam satu hari, Kota Bandung menghasilkan sekitar 150 ton sampah plastik. “Asumsinya jika satu hari sampah yang dihasilkan di Bandung sekitar kurang lebih 1.500 ton, 20 persennya merupakan sampah anorganik, yang dibagi 10 persen sampah plastik dan 10 persen lagi sampah non plastik. Jadi dalam sehari saja bisa menghasilkan 150 ton sampah plastik,” ungkap Rekotomo.

Dari penjelasan sebelumnya, apakah kita sudah menghitung berapa banyak plastik yang digunakan setiap hari?

Plastik makanan, plastik wadah belanja dari minimarket, supermarket, pedagang kaki lima, dan plastik botol minuman merupakan beberapa jenis plastik yang umum digunakan.

Coba perhatikan video pertama ini.

Bayangkan berapa banyak orang yang hidup di dunia dan menggunakan plastik setiap harinya. Terdengar mengerikan, bukan?

Plastik adalah hasil polimerisasi yang bermanfaat secara ekonomi namun merugikan lingkungan.

Plastik telah menjadi bagian integral dari kehidupan modern kita, dan manfaat ekonominya sangat signifikan. Namun, dampak negatifnya terhadap lingkungan telah menjadi perhatian global. Di satu sisi, plastik telah merevolusi cara industri memproduksi berbagai produk, dari kemasan makanan hingga peralatan rumah tangga. Namun, di sisi lain, limbah plastik telah mencemari lautan, mengancam kehidupan laut, dan mempengaruhi ekosistem secara keseluruhan.

Oleh karena itu, tantangan besar bagi kita adalah bagaimana mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengembangkan alternatif yang ramah lingkungan. Semakin banyak upaya masyarakat dan industri untuk menggunakan plastik secara bijaksana dan bertanggung jawab akan sangat penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.

Mari kita perhatikan video kedua ini.

Video pertama maupun kedua memperlihatkan bagaimana sampah plastik kebanyakan berakhir di lautan, yang mengancam ekosistem lautan.

  • Perlu waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi dan terurai dengan sempurna. Ini merupakan waktu yang sangat lama.
  • Pada saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah.
  • Lebih dari 300 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia setiap tahun, dengan pertumbuhan sekitar 5% setiap tahun. Sebanyak 1 triliun kantong plastik diproduksi setiap tahun, yang jika dibentangkan dapat membungkus benda 10 kali lipat dari ukuran bumi.
  • Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan. Plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin, senyawa yang berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya dapat memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.
  • Sampah plastik juga bisa menyebabkan banjir karena menghalangi saluran air. Bahkan, yang terburuk dapat merusak turbin waduk.
  • Kegiatan produksi plastik memerlukan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahun. Proses produksinya sangat tidak efisien secara energi.
  • Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah akhir (TPA), sampah plastik mengeluarkan gas rumah kaca.
  • Akibat dari semua itu adalah efek rumah kaca atau pemanasan global yang semakin terpuruk.

Faktanya, sampah plastik masih jadi permasalahan penting. Belum ada cara pasti untuk memecah plastik dengan aman tanpa merusak lingkungan.

Selama ini, yang kita ketahui ada beberapa hal yang dilakukan dan jadi pembuangan sampah plastik, diantaranya:

  • Dikubur di tanah, namun tetap saja tidak efektif karena perlu ribuan tahun hingga terurai dan otomatis juga mencemari tanah.
  • Dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bersama sampah lainnya, ini bisa menciptakan racun dan gas yang menyebabkan pemanasan global.
  • Dibakar adalah kebiasaan yang umum di kalangan penduduk, termasuk di negara lain. Namun, metode ini tidak efektif karena dapat menghasilkan gas beracun yang berbahaya jika dihirup akibat pembakaran yang tidak sempurna.
  • Dibuang di laut. Ini tidak efektif dan bisa berdampak buruk, meskipun ada peraturan tentang pembuangan sampah di laut dari kapal seperti yang ada dalam Konvensi Internasional tentang pencegahan pencemaran dari kapal 1973 yang diperbaharui oleh Protocol of 1978 ANNEX V melarang pembuangan sampah plastik ke laut termasuk kantong sampah plastik, tali sintetis, dan jaring sintetis. Sampah makanan dan sampah lainnya tidak boleh dibuang di laut dalam jarak hingga 12 mil dari daratan, kecuali sudah digiling dan dapat menembus saringan dengan bukaan tidak lebih dari 25 mm. Dalam jarak 3 mil dari darat, sampah, walaupun sudah digiling, tetap dilarang dibuang ke laut.

Menarik untuk membahas akhir dari masalah sampah plastik. Video ketiga ini menceritakan bagaimana botol plastik berakhir di laut lepas.

Dalam artikel di Metrotvnews.com dijelaskan bahwa: Sampah plastik yang ringan dan biasanya mengapung di atas air, ternyata dapat tenggelam. Ini pernah diamati oleh dua pakar ilmu kelautan dari University of Washington dan University of Delaware, Amerika Serikat.

Para pakar menemukan bahwa ada 2,5 kali lebih banyak puing-puing sampah di lapisan air bawah permukaan, yaitu sekitar 9,8 inci (25 cm) dari permukaan. Puing-puing ini telah terbawa angin ke kedalaman sekitar 65-82 kaki (20 sampai 25 meter).

Dalam sumber referensi lain, kompasiana.com menyebutkan bahwa pada tahun 2001, dilakukan kajian yang menduga adanya sekitar 334.271 lembar plastik per mil persegi di pusaran Pasifik Utara Tengah. Pusaran ini merupakan sistem arus eddy yang mengumpulkan benda-benda pada satu titik tertentu. Sebagian besar, yakni 60% hingga 80% dari sampah di laut, diduga berasal dari daratan.

Sampah plastik di laut dapat menyebabkan masalah pada 267 spesies biota laut di seluruh dunia, termasuk 86% spesies kura-kura, 44% spesies burung laut, dan 43% spesies mamalia laut.

Laut Arktik pun menjadi gunung sampah plastik dunia. Penduduk bumi yang hidup di 5 benua ini telah membuat Laut Arktik menjadi tempat sampah raksasa yang menampung sampah-sampah plastik. Ilmuwan NASA – Joey Comiso – merilis hasil penelitian yang menemukan bahwa lapisan es tertua di Laut Arktik mencair dan menghilang dengan kecepatan yang lebih tinggi dibanding dengan lapisan es muda dan tipis.

Kini sebuah riset yang dilakukan oleh Dr. Melanie Bergmann, seorang ahli biologi laut dari Alfred Wegener Institute for Polar and Marine Research juga merilis hasil temuan bahwa di bawah Laut Arktik terdapat sampah-sampah plastik yang semakin menebal.

Pengamatan lain di Observatorium Dasar Laut HAUSGARTEN milik AWI menunjukkan bahwa lapisan sampah plastik di wilayah tersebut lebih tebal daripada yang pernah ditemukan di Laut Canyon dekat Lisbon, Ibukota Portugal.

Tidak hanya itu, plastik di lautan dapat mencemari dan meracuni hewan-hewan laut. Hal ini membuat nelayan sulit untuk mendapatkan banyak ikan. Bahkan ikan yang mereka tangkap mungkin sudah terkontaminasi sampah laut, dan ini bisa berbahaya jika dikonsumsi manusia.

  1. Mengancam Kesehatan Hewan Laut: Sampah plastik seperti kantong plastik, sedotan, dan potongan-potongan kecil dapat tertelan oleh hewan laut seperti penyu, ikan, dan burung laut. Hal ini dapat menyebabkan cedera serius bahkan kematian pada hewan-hewan ini.
  2. Pencemaran Lingkungan: Sampah plastik yang mencemari laut dapat merusak ekosistem laut dan berdampak pada kehidupan biota laut serta berbagai organisme laut mikro.
  3. Kerusakan Terumbu Karang: Limbah plastik yang berakhir di laut dapat merusak terumbu karang yang sangat penting bagi kehidupan laut. Hal ini dapat memengaruhi keanekaragaman hayati dan ekologi di perairan laut.
  4. Ancaman bagi Manusia: Tidak hanya berdampak pada hewan dan lingkungan laut, sampah plastik juga dapat menjadi ancaman bagi manusia. Misalnya, ketika ikan yang terkontaminasi plastik dikonsumsi oleh manusia, hal ini dapat membahayakan kesehatan manusia.
  5. Dampak Ekonomi: Pencemaran laut oleh sampah plastik juga dapat berdampak pada sektor ekonomi, misalnya pariwisata dan sektor perikanan.

Maka dari itu, pencegahan penimbunan sampah plastik di laut serta pengelolaan limbah plastik secara bertanggung jawab sangatlah penting untuk melindungi lingkungan laut dan kehidupan di dalamnya.

Terdapat beberapa cara untuk menangani situasi ini, seperti:

  • Reduce: Gunakan plastik lebih sedikit jika tidak diperlukan untuk membungkus atau membawa makanan.
  • Reuse: Gunakanlah wadah yang bisa digunakan berulang-ulang, contohnya wadah dari kain atau tas.
  • Buang sampah pada tempatnya
  • Jangan membakar sampah plastik
  • Recycle: kita bisa menggunakan sampah plastik untuk membuat karya seni atau kreatif yang bisa digunakan lagi dan memiliki nilai ekonomi.

Daur ulang sampah plastik mungkin bukan solusi terbaik, tapi sekarang menjadi solusi yang paling berguna bagi lingkungan dan masyarakat. Banyak orang yang mendaur ulang sampah plastik menjadi karya seni yang bernilai dan menciptakan pekerjaan bagi daerah setempat.

Adakah Solusi Lain?

Dalam artikel kompasiana, disebutkan bahwa seorang peneliti dari perusahaan Blest di Jepang menemukan alat untuk mendaur ulang bahan plastik. Alat ini dapat mengubah sampah plastik menjadi minyak mentah.

Tentu saja, siapa pun bisa melakukannya di rumah karena alat ini sangat kecil. Alat ini bisa diletakkan di atas meja dan hanya butuh waktu beberapa saat untuk mengubah sampah plastik menjadi minyak mentah. Proses ini dilakukan dengan cara memanaskan plastik hingga meleleh menjadi gas, lalu gas tersebut akan mengubah air menjadi minyak.

Untuk setiap kilogram sampah plastik, bisa memproduksi satu liter minyak mentah. Minyak mentah tersebut kemudian dapat diolah menjadi bensin atau produk lainnya, seperti halnya minyak mentah biasa.

Blest akan menjual alat ini dengan harga 9.500 dolar AS (sekitar 100 juta rupiah). Alat ini adalah salah satu solusi yang terus dicari untuk mengatasi limbah plastik ini.

Dalam beberapa artikel dan video di negara lain, banyak orang yang peduli pada lingkungan dengan mendaur ulang plastik menjadi produk bernilai tinggi seperti kursi dan jalan raya dari campuran plastik.

Pemanfaatan kembali plastik untuk menciptakan produk bernilai tinggi tidak hanya membantu mengurangi limbah plastik tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru. Proses daur ulang plastik menjadi bahan baku untuk kursi atau bahan konstruksi jalan raya adalah langkah progresif dalam upaya kita untuk mengurangi dampak negatif plastik terhadap lingkungan. Melalui inovasi dalam pengelolaan limbah plastik, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sekaligus mengembangkan perekonomian berkelanjutan.

Referensi:

https://www.imo.org

en.wikipedia.org

kompasiana.com

greeneration.org

Plastic Bag Pollution

www.globalcitizen.org

10 Facts Plastic Bag

Tinggalkan komentar