Al-Qur’an merupakan kitab suci yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw sebagai petunjuk dan rahmat bagi manusia. Di dalamnya terdapat kabar gembira dan peringatan. Bagi orang yang mengimani dan mengamalkannya maka dipastikan dia mendapat kebahagiaan namun bagi mereka yang menyia-nyiakannya maka tidaklah ia dapati melainkan kenelangsaan dan penyesalan.

Seluruh pokok ajaran Islam termuat di dalam Al-Qur’an dari mulai ibadah sampai dengan muamalah seluruhnya diulas di dalamnya. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menata hubungan dengan Kholiq begitupun dengan makhluq. Al-Qur’an juga menjadi pedoman hidup yang jika ditinggalkan, manusia akan tersesat jatuh ke dalam kesengsaraan. Siapapun yang menjaga Al-Qur’an maka ia akan mendapatkan kemuliaan, kejayaan, keselamatan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Keluhuran Al-Qur’an menuntut kita untuk menampilkan adab dan etika terbaik. Terdapat beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam menunaikan kewajiban terhadap Al-Qur’an dan yang paling utama ialah dengan mengimaninya.

Ini adalah kewajiban paling mendasar. Mengingkarinya menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam kekafiran.

Kita beriman bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah seluruhnya

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰۤىِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ أَحَدࣲ مِّن رُّسُلِهِۦۚ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya.” [Al-Baqarah/2: 285]

Kita beriman bahwa Allah menjaga Al-Qur’an dari intervensi makhluk manapun.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”  (QS Al-Hijr [15]: 9).

Jaminan ini tidak ada pada kitab lain selain Al-Qur’an karena memang kitab lain itu terbatas hanya untuk kaum tertentu di masa tertentu sementara Al-Qur’an berlaku untuk semua manusia (bahkan jin) di semua zaman.

1. Dihafal oleh jutaan kaum muslimin dari generasi ke generasi.

Inilah cara paling gampang membuktikan kebenaran Al-Qur’an. Logikanya jika Al-Qur’an itu pernah diselewengkan maka dipastikan hafalan semua orang di dunia ini berbeda. Tapi nyatanya mereka menghafal ayat dan surat yg sama di seluruh dunia.

2. Ditulis. Penulisan Al-Qur’an ini dimulai saat Rasulullah masih hidup.

Al-Qur’an, yang merupakan kitab suci umat Islam, disusun secara lisan pada masa kehidupan Nabi Muhammad. Revelasi-revelasi ilahi yang diterima beliau kemudian diabadikan dalam bentuk tulisan oleh para sahabatnya. Proses penulisan Al-Qur’an ini sangat berbeda dengan proses penulisan karya-karya sastra pada umumnya, karena melibatkan aspek ilahi dan pengawasan langsung dari Nabi Muhammad.

Selama masa kehidupannya, Nabi Muhammad memberikan petunjuk kepada para sahabatnya dalam hal penulisan ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa teks yang dituliskan sesuai dengan yang diwahyukan kepadanya. Dengan demikian, setiap ayat dan surah dalam Al-Qur’an memiliki latar belakang historis yang kuat, yang dapat ditelusuri hingga ke masa kehidupan Nabi.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad, para sahabatnya yang memegang peranan penting dalam penyebaran Islam, juga turut memiliki peranan dalam pengumpulan dan penulisan Al-Qur’an. Mereka bekerja keras untuk memastikan keselamatan dan pemeliharaan teks suci ini, sehingga dapat diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya tanpa mengalami distorsi atau perubahan yang tidak diinginkan. Dalam hal ini, penulisan Al-Qur’an tidak hanya merupakan sebuah proses teknis, tetapi juga menjadi bagian dari pengabdian dan dedikasi yang mendalam terhadap ajaran Islam.

3. Ditulis tafsirnya oleh para ulama di sepanjang zaman.

Ada ribuan kitab tafsir bisa kita temukan di sepanjang zaman sebagai fakta historis keotentikan Al-Qur’an yang tak pernah berubah. Berbagai metode dan corak dalam tafsir yang beragam dan semakin berkembang sehingga mudah bagi umat untuk mengambil pelajaran dan hukum dari Al- Qur’an sesuai penafsiran para ulama. Termasuk penulisan ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an yang semakin berkembang dari masa ke masa.

4. Ditulis hukum fikihnya dalam kitab kitab fikih para ulama sepanjang zaman.

Ini juga jadi bukti otentik bahwa Al-Qur’an tidak pernah berubah sepanjang zaman.

Penjagaan yang sempurna seperti itu tidak akan kita temui di kitab suci lain yang hanya dijaga dengan cara tertulis. Akibatnya, terdapat ribuan manuskrip yang semuanya berbeda satu dengan yang lain, belum lagi terdapat ayat-ayat yang hilang dalam kitab suci mereka, bahkan terdapat berbagai versi dalam kitab suci mereka di setiap aliran kepercayaan.

Kita beriman bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dan kabar gembira

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS Al-Isra [17]: 9).

Kita beriman bahwa Al-Qur’an seluruh ayat dan ajarannya adalah kasih sayang. Buktinya adalah ayat yang pertama kita baca dalam Al-Qur’an adalah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS. Al Fathihah, 1: 1).

Dari banyak nama Allah (asmaul husna), Allah memilih dua nama dengan akar kata yang sama, yaitu rohmah yang artinya kasih sayang.

Maka setiap ayat dalam Al-Qur’an adalah bukti nyata dari kasih sayang Allah kepada kita.

Penulis: Farhan Fauzan

Tinggalkan komentar