Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada pria ada pula wanita, ada siang dan malam, ada langit dan bumi, ada dzhahir dan batin, ada baik dan buruk begitu pun ada kamu dan aku. Semuanya diciptakan berpasangan sesuai dengan sunnatullah yang allah gariskan senada dengan apa yang ditegaskan dalam surat adzariyat ayat 49. Tak terelak pula siklus kehidupan yang dialami manusia. Pasti adakalanya berduka dan berbahagia terikat pada dua komponen momen yang dilalui berupa anugerah dan musibah.

Kebanyakan manusia mengharap hari yang dijalaninya senantiasa diisi oleh anugerah yang akan menghantarkan pada kebahagiaan dan kenyamanan hidup. Mereka enggan untuk mengalami musibah, senantiasa menghindar dari musibah. Hal ini wajar dikarenakan musibah menurut para ulama diterjemahkan sebagai ‘Kullu Makruuhin Yahullu bil Insaan’, yakni segala bentuk yang dibenci yang menimpa manusia.

Bagi seorang muslim, musibah adalah hal yang biasa. Hal yang niscaya menimpanya dan musibah merupakan ujian dari Allah sang pencipta. Seorang muslim yakin bahwa disamping bahagia kita pun pasti akan diuji dengan nestapa. Ujian berupa musibah bukanlah beban dan sesuatu yang tak bisa dilepaskan.

Musibah adalah ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran dan penuh rasa optimis, karena yakin bahwa musibah ada dalam takdir yang Allah beri dan Allah tahu kita mampu melewatinya. Pasti selalu akan ada hikmah di baliknya. Ingatlah bahwa segala yang terjadi di muka bumi ini adalah merupakan takdir-Nya, dan tidak akan terjadi kecuali atas izin-Nya. Allah berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَة فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰب مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِير

“Setiap musibah (bencana) yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (lauh mahfuzh) sebelum kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid :22)

Pandanglah musibah sebagai ujian yang akan mengangkat harkat derajat kita di sisi Allah Ta’ala. Ridha dengan seluruh kesulitan yang hadir dengannya. Karena Allah memberi Musibah bukan untuk mendzalimi kita atau bukan pula sebab membenci kita.

1. Setiap musibah mendatangkan kifarat akan setiap kesalahan dan mengundang beribu pahala kebaikan.

Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573.

2. Musibah adalah tanda cinta dari sang Pencipta.

Bisa kita renungkan hadits dari Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridha, maka ia yang akan meraih ridha Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

3. Musibah merupakan barometer keimanan.

Hayatilah firman Allah dalam Surat Al-Ankabut ayat 2 & 3.

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ

Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

4. Musibah merupakan wasilah untuk mendapat shalawat, rahmat dan petunjuk dari Allah ta’ala.

Renungkanlah firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 155-157.

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

5. Tidaklah datang musibah melainkan akan datang ganti yang lebih indah.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَت: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ) اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا، قَالَتْ: فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ’anha –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak ada seorang hamba pun yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan INNAA LILLAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UN. ALLAHUMMA’JURNII FII MUSHIBATII WA AKHLIF LII KHOIRON MINHAA (Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik) melainkan Allah akan memberinya pahala dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.’” Ummu Salamah kembali berkata: “Ketika Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun mengucapkan doa sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkankan padaku. Maka Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim, no. 1526).

Penulis: Ustad Farhan Fauzan

    Tinggalkan komentar