Manusia adalah makhluk sosial yang perlu teman sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dalam surah Al-Hujurat (49) ayat ke-13. Manusia diciptakan memiliki suku dan bangsa yang berbeda untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain.

Manusia tidak akan pernah mampu hidup sendirian karena sifat dasarnya membutuhkan interaksi dan ketergantungan pada orang lain. Hal ini tercermin dari konsep bahwa manusia, sesuai dengan firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 28, “dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah”.

Dalam ilmu sosiologi, manusia membutuhkan hubungan sosial untuk menjalani kehidupan. Pertemanan merupakan ikatan yang memungkinkan individu untuk saling membantu, berbagi perasaan, informasi, dan waktu.

Hal ini melibatkan saling percaya, menghargai, serta mendukung secara fisik, emosional, dan sosial untuk mencapai kedekatan. Setiap individu pasti memiliki orang-orang di sekitarnya yang dianggap teman atau sahabat.

Islam memberikan panduan yang tegas agar kita tidak salah dalam menjalin hubungan pertemanan dan persahabatan.

Allah SWT dengan jelas melarang kita untuk menjadi teman setan karena setan selalu mengarahkan manusia pada kesesatan dan menjauhi ketaatan. Setan harus dilihat sebagai musuh bagi hamba Allah SWT, seperti yang digambarkan dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 208.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِى السِّلۡمِ کَآفَّةً ۖ وَلَا تَتَّبِعُوۡا خُطُوٰتِ الشَّيۡطٰنِ‌ؕ اِنَّهٗ لَـکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِيۡنٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Al-Qur’an mencerminkan keadaan seseorang yang menyesal karena tidak mengikuti jalan rasul karena salah memilih teman. Hal ini tergambar dalam surah Al-Furqan (25): 27.

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya (menyesali perbuatannya) seraya berkata: Wahai sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.”

Al-Furqan (25): 28.

يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا

“Celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku)”

Disebutkan dalam Tafsir Al-Azhar jilid 7, 5026, bahwa latar belakang turunnya ayat di atas adalah dikaitkan dengan seorang pemuka Quraisy bernama Uqbah bin Abu Mu’aith.

Beliau memiliki hubungan yang sangat baik dengan Rasulullah saw sebelum memeluk Islam. Uqbah sering bertukar pikiran dan bergaul dengan Nabi, sehingga akhirnya ia mengucapkan syahadat.

Setelah kejadian itu, ia berjumpa dengan teman lamanya yang sangat membenci Rasulullah saw, yaitu Ubayyu bin Khalaf.

Temannya itu menghasut Uqbah, mencela kelemahannya karena meninggalkan keyakinan nenek moyang. Ini akhirnya membuat Uqbah berbuat kesalahan dengan mencaci maki dan meludahi muka Rasulullah saw.

Meskipun temannya sangat memuji perbuatan dirinya, Uqbah menyesal dalam hatinya. “Mengapa saya tidak menuruti ajaran Rasul? Mengapa saya menjadikan si Ubayyu teman?” Namun, kelemahannya menyebabkan kehancuran jiwanya, sehingga Uqbah tidak lagi menempuh jalan kebenaran bersama Rasulullah saw sampai akhir hayatnya.

Demikianlah salah satu contoh orang yang zalim, yang pada akhirnya di akhirat nanti hanya akan menyesal.

Oleh karena itu, setiap muslim perlu secara cermat memilih teman dan sahabat. Meskipun boleh berkenalan dengan siapa saja, namun ketika menjalin persahabatan, kita perlu mencari teman yang terbaik. Bersahabatlah dengan individu yang baik dan saleh, karena mereka akan membantu kita menjadi pribadi yang juga baik dan saleh.

Bagi seorang Muslim, memiliki teman dan sahabat yang saleh merupakan hal yang sangat penting. Ada sebuah pepatah yang mengatakan ‘As-shoohib saahibun’ yang berarti sahabat itu menarik. Jika sahabat kita baik, maka dia akan menarik kita menjadi baik. Namun, jika sahabat itu buruk, maka tidak peduli seberapa sedikit atau seberapa banyak interaksi kita dengannya, cepat atau lambat ia akan menarik kita menjadi buruk.

Namun, jika masih ada teman yang belum baik, penting bagi kita untuk memberikan nasihat dan arahan kepada mereka. Kita tidak boleh meninggalkan mereka begitu saja. Kita dapat menjadi wasilah hidayah bagi mereka melalui ucapan, perbuatan, dan contoh yang baik, sehingga mereka tergerak untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ketika setiap muslim bermimpi agar persahabatan mereka tidak hanya bertahan di dunia, tetapi juga abadi hingga ke surga.

Wallahu A’lam Bis-Shawaab

Penulis: Ustad Farhan Fauzan

Tinggalkan komentar