Kita sering mendengar tentang angin, tetapi tahukah Anda tentang angin lokal? Mari kita pelajari bersama!
Pernahkah Anda mencoba bermain layang-layang? Layang-layang dapat terbang saat ditarik karena adanya tekanan udara yang bertindak pada permukaan atas sayap layang-layang.
Begitu juga dengan kincir angin yang berputar, hal itu disebabkan oleh adanya energi angin yang menggerakannya. Adanya angin sendiri disebabkan oleh perbedaan panas dan tekanan udara (tekanan atmosfer) di berbagai tempat di Bumi.
Kata angin bukanlah sesuatu yang asing. Frasa ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun angin bukan hal yang baru dan sering dirasakan, masih banyak yang belum memahami apa sebenarnya angin dan bagaimana angin ini terjadi.
Untuk menjelaskan angin dan terjadinya fenomena ini, diperlukan pemahaman mendalam tentang konsep tekanan dan suhu. Keduanya berperan penting dalam memahami dinamika angin secara menyeluruh.
Angin merupakan aliran udara di permukaan bumi yang terbentuk akibat adanya perubahan tekanan udara di dua tempat yang berbeda. Udara akan mengalir dari tempat bertekanan tinggi menuju tempat yang bertekanan rendah.
Perbedaan tekanan antara dua tempat disebabkan oleh perbedaan suhu udara di dua lokasi sebagai akibat dari perbedaan pemanasan oleh sinar matahari.
Semakin besar perbedaan suhu, maka perbedaan tekanannya juga semakin besar, yang akan menyebabkan angin bergerak dengan lebih kencang.
Secara umum, angin dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
- Angin lokal yang terbentuk akibat adanya perbedaan tekanan udara pada dua tempat yang berdekatan.
- Angin global yang arahnya selalu tetap sepanjang tahun.
Jenis angin lokal diantaranya angin darat dan angin laut, angin gunung dan angin lembah, angin turun, angin muson, serta angin siklon dan antisiklon.
1. Angin Darat dan Angin Laut

Angin darat dan angin laut terjadi karena perbedaan pemanasan antara daratan dan lautan. Pada siang hari daratan lebih cepat panas dibandingkan dengan lautan, akibat kalor jenis daratan lebih kecil daripada kalor jenis air laut.
Pemanasan yang lebih cepat di darat menyebabkan udara di atas daratan memuai lebih banyak, sehingga massa jenis udara menjadi lebih kecil.
Dalam konsep fluida, zat yang massa jenisnya lebih kecil akan berada di atas zat yang lebih besar massa jenisnya, sehingga udara di atas daratan akan naik.
Kekosongan udara di daratan menyebabkan tekanan udara yang lebih kecil daripada tekanan udara di atas laut. Maka udara yang ada di atas lautan akan terdorong menuju daratan yang tekanan udaranya kecil. Angin ini disebut dengan angin laut.
Sebaliknya, pada malam hari, daratan lebih mudah melepaskan kalor dibandingkan lautan, sehingga suhu udara di atas lautan lebih tinggi dari pada suhu di atas daratan.
Akibatnya, tekanan udara di laut lebih kecil daripada di darat, sehingga udara akan terdorong dari darat menuju lautan. Angin ini disebut angin darat.

Adanya angin darat dan angin laut biasanya dimanfaatkan oleh para nelayan dalam usaha penangkapan ikan. Para nelayan biasanya melaut menangkap ikan pada malam hari dengan memanfaatkan angin darat dan pulang membawa hasil tangkapan ikan dengan menggunakan dorongan dari angin laut.
2. Angin Gunung dan Angin Lembah

Angin gunung dan angin lembah terjadi secara periodik seperti halnya pada angin darat dan angin laut. Angin gunung biasanya terjadi pada malam hari, di mana angin berhembus dari puncak gunung ke lembah. Sebaliknya, angin lembah terjadi pada siang hari, di mana udara bergerak dari lembah ke puncak gunung.
Terjadinya angin gunung dan angin lembah dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Pada siang hari, puncak gunung akan menerima panas matahari lebih awal dibandingkan dengan bagian lembah.
- Udara di puncak gunung akan menjadi lebih tinggi dan menyebabkan pemuaian udara di puncak gunung.
- Dengan pemuaian tersebut, massa jenis udaranya menurun dan akan naik sehingga timbul kekosongan udara di puncak gunung dan tekanannya menjadi lebih kecil.
- Udara yang ada di lembah gunung memiliki suhu yang rendah dan tekanan lebih tinggi sehingga udara akan bergerak dari lembah menuju puncak gunung yang disebut angin lembah.
- Sebaliknya, pada malam hari suhu udara di puncak gunung akan menurun lebih cepat dibandingkan di lembah gunung, sehingga tekanan di lembah lebih kecil dibandingkan dengan puncak gunung dan udara akan mengalir dari puncak gunung ke lembah gunung. Terjadilah angin gunung.
3. Angin Turun

Angin ini merupakan angin yang mengalir turun dari puncak gunung dan berasal dari lembah gunung yang ada di seberangnya. Setelah melewati puncak gunung, angin ini turun dengan suhu yang lebih tinggi.
Udara basah mengalir dari permukaan laut yang mempunyai suhu sekitar 25°C naik menuju puncak gunung. Pada ketinggian sekitar 1000 m berlangsung proses adiabatik kering sehingga suhu udara turun mencapai suhu 10°C.
Udara ini mengalir terus menuju puncak gunung sekaligus mengalami pendinginan suhu secara kontinu akibat uap basah sudah mengembun dan turun menjadi hujan.
Di lereng gunung yang berseberangan angin tersebut turun dan suhu angin akan mengalami kenaikan. Setelah sampai di lembah, suhu angin dapat lebih tinggi dari suhu awalnya. Contoh dari angin turun ini adalah angin bohorok, angin kumbang, angin gending.
4. Angin Muson

Angin muson merupakan angin yang terjadi karena perbedaan musim di belahan bumi bagian utara dan bagian selatan. Penyebabnya adalah adanya daratan yang luas dan berseberangan dengan khatulistiwa, misalnya Asia di belahan bumi utara dan Australia di belahan bumi selatan.
Faktor yang berpengaruh adalah gerak revolusi bumi mengelilingi matahari dimana antara bulan April sampai bulan September belahan bumi utara mendapatkan penyinaran matahari lebih lama dari pada belahan bumi selatan.
Enam bulan berikutnya, yaitu bulan Oktober sampai bulan Maret, belahan bumi selatan lebih panas dari pada belahan bumi utara.
Pada waktu matahari berada di belahan bumi utara, belahan bumi utara menjadi lebih panas sehingga massa jenisnya menjadi lebih kecil dan terjadi aliran udara dari benua Australia ke benua Asia.
Pada saat itu terjadi angin muson timur. Sebaliknya pada bulan Oktober hingga Maret di daerah benua Australia memiliki suhu yang lebih panas sehingga terjadi pergerakan udara dari benua Asia ke benua Australia. Pada saat tersebut terjadilah angin muson barat.
5. Angin Siklon dan Antisiklon

Angin siklon terjadi karena adanya daerah yang memiliki tekanan minimum atau disebut dengan daerah depresi. Daerah ini dikelilingi oleh daerah yang bertekanan udara yang lebih tinggi sehingga udara akan bergerak terpusat ke daerah tersebut dengan bentuk gerakan udara spiral.
Sedangkan angin antisiklon terjadi akibat adanya daerah yang memiliki tekanan udara maksimum dan dikelilingi oleh daerah-daerah yang bertekanan rendah sehingga udara dari satu daerah akan bergerak terpencar ke daerah lain dengan bentuk gerakan spiral.
Pada daerah pusat siklon, angin bergerak ke atas dan ekornya berbentuk kerucut. Angin siklon yang sangat kuat dapat menghancurkan rumah-rumah atau pepohonan yang ada di permukaan bumi.
Angin siklon memiliki beberapa nama yang berlaku di daerah-daerah tertentu. Di Indonesia angin siklon dikenal dengan istilah angin puyuh atau angin puting beliung.

Sedangkan di Amerika angin siklon yang sangat kuat disebut dengan angin tornado. Di India Barat angin siklon dikenal dengan nama angin Hurricane. Di China dikenal dengan nama Typhoon atau Taifun.
Tentang angin puting beliung dan tornado, hal ini sedang diperdebatkan. Kejadian angin puting beliung yang mirip tornado di Rancaekek, Bandung pada 21 Februari 2024 menarik perhatian masyarakat Indonesia dan para ahli, termasuk BMKG.
Menurut BMKG, kejadian alam di Rancaekek disebut angin puting beliung bukan tornado, karena kekuatannya tidak sekuat tornado.
Berbeda dengan pendapat dari seorang dosen di Program Studi Meteorologi, Dr. Nurjanna Joko Trilaksono, S.Si., M.Si. dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam artikel “Kejadian di Rancaekek Tornado atau Puting Beliung? Ini Kata Pakar Sains Atmosfer ITB” menjelaskan bahwa:
“Melalui kajian yang sudah ada di Meteorologi, adanya aliran pola yang berputar ini disebut dengan tornado, terlepas dari berapa intensitasnya. Maka dari itu, fenomena ini kita sebut tornado.”
“BMKG memiliki cara lain untuk mendefinisikan puting beliung atau tornado berdasarkan kekuatannya. “Kalau kita mendefinisikan tornado berdasarkan proses fisisnya. BMKG melihat dari aspek kekuatannya yang tidak besar, maka dimasukkan ke dalam kategori puting beliung, meski puting beliung adalah small tornado.”
Referensi:

Tinggalkan komentar