Umat Islam memandang bahwa kehidupan di dunia layaknya sebuah perjalanan ‘safar’ menuju Allah SWT, latihan dan pemantapannya dimulai dari dilahirkan hingga baligh, start nya dimulai masa taklif, tujuannya adalah keridoan Allah dan garis finish nya adalah husnul khotimah.
Dunia bukan tempat tinggal, namun tempat meninggal seperti yang diajarkan oleh nabi untuk memposisikan kita sebagai orang asing ‘Ghariban’. Kita bukan penduduk asli dunia, kampung halaman kita adalah akhirat. Maka dunia dijadikan fokus untuk mempersiapkan diri dengan bekal amalan takwa ‘fatazawwaduu fainna khoiro zaadit taqwa’.
Layaknya sebuah perjalanan, setiap musafir memerlukan teman. Teman yang akan menemaninya dalam setiap etape kehidupan. Teman menjadi instrumen yang penting dalam perjalanan hidup dunia ini. Dengan adanya teman, perjalanan akan terasa nyaman. Bahkan waktu yang panjang dapat terasa singkat berkat hadirnya teman.
Namun, sayangnya, terkadang ada teman yang bukannya memberikan bantuan, namun malah menjadi beban atau bahkan menjadi penghambat perjalanan untuk mencapai tujuan.
Nabi mewanti wanti agar kita selektif memilih teman, sebagaimana dalam sabdanya;
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)
Pertemanan dan lingkungan yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi kebiasaan dan membangun karakter yang sangat kuat. Terbukti nabi menjelaskan dalam sabdanya;
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan mengikuti kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Pertemanan itu adalah nilai ibadah jika diniatkan dan dijalin sesuai dengan ajaran agama. Pertemanan akan menjadi sia-sia jika hanya untuk mencari kesenangan atau kepuasan sesaat. Hubungan ini akan memperkuat iman jika dibangun berdasarkan ilmu bukan nafsu.
Oleh sebab itu, jangan sembarangan teman, pilihlah yang beriman. Diantara aspek yang patut diperhatikan dalam memilih teman ialah sebagaimana yang diungkap oleh nabi Kita, beliau bersabda;
“Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya.” (HR. Hakim)”
Ada beberapa indikator agar kita mampu memilih teman yang ideal dan menjalin pertemanan yang menguntungkan.
Pastikanlah 4 karakter teman sejati ini dimiliki oleh orang yang akan menjadi teman kita:
1. Saleh dan Salehah
Orang yang saleh ialah mereka yang semua urusannya beres. Hubungannya dengan Allah beres dan juga hubungan muamalah interaksi sosialnya beres. Setiap tanggung jawab dan kewajibannya dijalankan dengan baik dan tuntas. Alangkah beruntungnya bila dapat berteman dengan orang yang saleh.
Dalam Surat Al-Kahfi ayat 28, Allah SWT berfirman yang artinya:
“Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan perilakunya sudah melewati batas.”
2. Pencari Ilmu
Pastikan bahwa teman kita adalah seorang pencari ilmu. Seorang yang mencari ilmu pasti dia memiliki ilmu. Ilmu akan memberikan cahaya dalam setiap gelap kehidupan.
Dengan ilmu seseorang akan senantiasa terbimbing untuk berjalan dan memilih langkah yang benar. Ilmu bagaikan kompas yang sangat penting untuk menghantarkan pada tujuan yang diinginkan.
Berteman dengan orang yang abai terhadap ilmu dan dengan sikap abainya itu membuat dirinya menjadi bodoh. Kondisi ini tidak membawa manfaat apapun bagi dirinya dan juga temannya. Justru ia akan membawa pada keputusasaan dan kesesatan dunia. Sebagaimana sebuah pepatah mengatakan “Memiliki musuh yang pintar itu lebih baik dibandingkan dengan memiliki teman yang bodoh.”
3. Jujur
Tidak ada hasil akhir dari Kejujuran melainkan surga. Sebagaiamana nabi mengungkapkan;
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ اِلَى الْبِرِّ اِنَّ الْبِرِّيَهْدِيْ اِلَى الْجَنَّةِ رواه البخارى ومسلم
Artinya : “Hendaknya kamu selalu jujur karena kejujuran itu akan membaca kepada kebaikan dan kebaikan itu akan membawa ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kejujuran merupakan modal utama dalam menjalani kehidupan. Sekali berbohong maka jutaan kebohongan lain akan siap menambal kebohongan sebelumnya.
“Ash-shoohib huwaladzi yashduquka walaa yushaddiquka” sebuah pepatah mengungkapkan bahwa teman sejati ialah yang berkata benar (jujur) akanmu bukan yang selalu membenarkanmu.
4. Pandai bersyukur dan qonaah
Berteman dengan mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuannya pasti akan melelahkan. Karena dunia tidak akan pernah ada habisnya, tidak pula ada puasnya. Orang yang tidak bersyukur adalah orang yang siap untuk tidak berbahagia, karena puncak kebahagiaan adalah ketika bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang dia dapatkan.
Orang yang tamak dapat membawa racun hati yang mematikan. Bergaul dengan orang yang tamak bisa menyebabkan lupa pada hakikat agama yang sesungguhnya.
Oleh sebab itu, sebaiknya bertemanlah dengan orang yang qonaah. Ia akan membuat Anda lebih mensyukuri semua nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.
Pesan penting pada akhir tulisan ini ialah, jangan pernah bersikap egois. Kita sangat ingin memiliki teman yang baik, saleh yang akan selalu mengajak dan mengarahkan kita menuju ketaatan namun lupa untuk menjadi pribadi yang baik dan saleh untuk teman kita. Jangan egois dengan melupakan bahwa teman teman kita pun sama dengan kita mendambakan sosok teman yang saleh.
Jadilah saleh untuk memperbaiki setiap pertemanan, agar persahabatan tidak hanya terjalin di dunia tapi juga akan kekal hingga surga. Aamiin, Hanya Allah yang mengetahui pahala yang sebenarnya.

Tinggalkan komentar